Belajar Dari Luka
September 28, 2020Kita tidak bisa memilih untuk berperan dalam sebuah cerita yang diinginkan. Karena sejatinya, mau tidak mau kita harus memainkan skenario yang sudah Tuhan siapkan.
**
Aku tidak bisa menahan perkataan mereka, aku biarkan mereka beragumen sesuka hati, walaupun itu menyakitkan dan membuat sebuah tekanan baru.
Seolah obrolan mereka menjadi asupan sehari-hari bagiku. Tak mengapa, aku hanya bisa apa? Terdiam di sini. Untuk membalas saja tak mampu.
Mereka seolah hanya bisa berkomentar, tanpa tau apa yang sedang aku perjuangkan.
Kadang dunia memang selucu itu.
Aku hanya sebatas peran di sini. Mau tidak mau harus memerankan skenario yang sudah Tuhan siapkan. Aku bahkan tak bisa mengarang dengan skenario baru. Karena ini sudah merupakan bagian dari skenarioNya.
"Bukankah Allah Maha Menghendaki?" Ya. Pikiranku seolah tertuju ke sana. Mungkin komentar itu sekedar motivasi dan menguatkan langkahku.
Aku pernah hampir menyerah dalam kondisi ini. Aku merasa depresi dengan persoalan yang tidak begitu besar. Namun kenapa aku harus menyerah? Lagipula, komentar itu sudah biasa di dunia ini. Bukan aku saja, namun orang lain di luar sana pun merasakannya.
Aku tatap langit nanti indah dan aku berikan senyuman untuk semesta bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tak menghiraukan mereka yang membuat aku semakin tertekan. Aku tak peduli akan hal itu.
Karena bagaimanapun, yang tahu tentang diri kita hanya Allah. Wajar saja, dunia dipenuhi oleh orang yang suka dengan kita dan ada yang tidak.
Maka, tugasmu hanya tetap fokus dengan tujuanmu. Abaikan orang yang tengah menyakitimu.
~
@tulisan_nun
gadis bungsu


0 komentar
(Gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomentar.)