Separuhnya Telah Pergi
September 20, 2020"Ayo kejar aku, Ayah. Ahahahaha" tawa dari gadis mungil kepada Ayahnya.
"Awas ya kalau sampai kena sama Ayah." Ledek sang Ayah.
Mereka saling berkejaran disertai tawanya, nampak bahagia permainan sederhana. Mampu menghilangkan segala kegundahan yang ada.
"Happp. Nahh kan kena juga anak Ayah." seru Ayah sambil tersenyum.
"Yahhh kalah deh." gerutu gadis mungil sambil memajukan bibirnya.
Tiba-tiba....
"Mba, ini pesenannya." ucap seorang wanita sambil memberikan makanannya.
"Ehh iya terima kasih, Mba." jawab Ani tersadar dari lamunannya.
Ternyata kejaran antara gadis mungil dan Ayahnya hanya ada dalam lamunannya, hanya ada di cerita lama yang saat ini sudah sangat usang. Namun ia masih ingat jelas kejadian itu.
Sayangnya tak bisa lagi ia rasakan sejak 15 tahun terakhir ini. Tiba-tiba saat Ani tengah membeli makanan di pedagang bahu jalan, cerita dulu seketika hadir, terngiang bagaimana kegembiraan yang sempat ia peluk dengan sangat erat. Tapi ya sudahlah, tak bisa lagi ia alami, lagipula untuk berjumpa sudah sangat mustahil, semenjak Ayahnya tetap bersikeras pergi lalu membangun rumah impian bersama yang lain.
Langit cerah menggembirakan hati, bangunan tetap berdiri kokoh, angin berlarian dengan santai. Di sudut kota yang ramai oleh lautan manusia, ia bergumam;
"Aku rindu, pulanglah Ayah. Anak mungil yang dulu kau sayangi, sudah beranjak dewasa, usianya sudah menginjak 20 tahun. Namun sampai saat ini aku tak bisa lagi berjumpa, apalagi bersama denganmu Yah." batin Ani sambil tersenyum.
@tulian_nun
gadis bungsu


0 komentar
(Gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomentar.)