Kertas Lipat
Agustus 16, 2020Kertas Lipat
Hari ini, sayang.
Kertas itu terbang untuk aku yang tak pernah bisa menyebutmu sayang, meski di mimpi maupun di nyata. Kertas itu tertulis namamu, tapi tak bersanding denganku. Bagaimana ini? Aku menunggu dengan percaya diri yang terlalu, lalu kamu datang bukan untuk meminang, tapi untuk memberi undangan.
Benarkah, sayang?
Lipatan kertas itu tertera tanggal perjanjian antara dikau dengan si Pujaan. Waktu serasa berhenti, atma serasa pergi, harsaku seakan mati! Harapku kah, yang terlalu tinggi? Manusia yang tak tau diri? Merasa diminati padahal hanya diamati tak sampai di hati.
Haruskah aku pergi, sayang?
Supaya rasa ini segera hilang atau sebaiknya aku terjang badai? Agar segera sampai di ujung kebahagiaan? Sayang, aku tak bisa salahkan dikau, karena aku pun hanya bisa diam dan dikau pun tak tau rasa di kalbu.
Sayang, aah salah maksudku Tuan. Semoga sarayu segera terbangkan payoda hitam, agar bumantaraku cepat terang. Sampai jumpa, Tuan! Aku memilih terjang badai demi sampai ke ujung bahagia.
HilNulis
Siang bolong, di kolong langit.
13.03

0 komentar
(Gunakan bahasa yang baik dan sopan dalam berkomentar.)